pada tanggal
CERPEN OSIETARI
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Berkacamata tebal, gigi berbehel, bertubuh sedikit pendek alias tidak proporsional, begitulah penampilan Maurin, dan karena penampilannya itulah Maurin terkenal di sekolahnya. Terkenal sebagai cewek cupu yang selalu menjadi bahan tertawaan. Ada lagi sosok yang terkenal di sekolah Maurin, bukan terkenal karena penampilan cupunya yang sama seperti Maurin, melainkan dia terkenal karena kegantengan dan tampang kerennya, namanya Adli. Siswa kelas 12 yang banyak dijadikan idola siswi satu sekolah, termasuk Maurin. Sama seperti siswi sekolah lainnya, Maurin juga menyukai Adli yang merupakan kakak kelasnya. Menurut Maurin Kak Adli adalah laki-laki baik hati, ramah dan murah senyum, sifat Kak Adli itulah yang membuat Maurin jatuh hati dan bagi Maurin Kak Adli adalah salah satu sosok penting dalam hidupnya. Ada satu lagi sosok penting dalam hidup Maurin, sosok yang selalu setia menemani Maurin dan selalu ada disaat Maurin membutuhkannya, namanya Rere. Maurin satu sekolah dengannya, hanya saja mereka berdua berbeda jurusan dan kelas.
Pagi itu Maurin teringat bahwa dia lupa membawa buku bahasa Indonesia, jika
guru bahasa Indonesia tau dia tidak membawa buku paket pelajaran, akan tamat
riwayatnya. Meminjam buku paket pejaran bahasa Indonesia di perpustakaan adalah
solusi yang tepat, Maurin berjalan menuju perputakaan, dari kejauhan Maurin
melihat segerombolan laki-laki di depan perpustakaan. Maurin menghentikan
langkahnya saat mengetahui gerombolan itu adalah kelas 12 ips 2, bisa jadi
bahan bullyan Maurin jika melewati gerombolan kakak kelas itu. Sedangkan tidak
ada jalan lain menuju perpustakan selain melewati gerombolan kakak kelas itu.
Maurin berfikir apakah dia tidak usah pergi ke perpustakaan?, tapi akan tamat
riwayatnya jika tidak ada buku paket bahasa Indonesia saat pelajaran
berlangsung. Sepertinya tidak ada pilihan lain selain melewati gerombolan kakak
kelas itu dan sepertinya Maurin harus memantapkan hatinya.
“Telor, telor, bulet, bulet, Kepompong,
kupu- kupu. Ada si cupu…,” ucap gerombolan kakak kelas itu kompak, mereka
tertawa, lebih tepatnya mereka mentertawakan Maurin yang berjalan melewati
mereka.
Rere menghampiri Maurin di kelasnya, mengajak Maurin untuk makan siang di
kantin. Hampir setiap istirahat sekolah mereka berdua selalu bersama. Rerelah
yang selalu menghampiri Maurin. Pernah disuatu hari, Maurin yang datang ke
kelas Rere dan mengajak Rere untuk istirahat bersama. Teman-teman satu kelas
Rere meledek dan mentertawakan Maurin, saat kejadian itulah Rere selalu dan
tidak pernah absen menghampiri kelas Maurin dan mengajak Maurin istirahat
bersama. Rere tidak ingin teman karibnya itu di tertawakan teman-teman satu
kelasnya lagi.
Rere sangat paham segala hal tentang Maurin, termasuk tentang Maurin yang
menyukai Kak Adli. Teman-teman perempuan satu kelas Rere saat itu sibuk
membicarakan Kak Adli, Rere sedikit penasaran tentang apa yang sedang mereka
bicarakan, Rere menguping dan mendengar pembicaraan mereka tentang ulang
tahun Kak Adli. Rupanya besok adalah hari ulang tahun Kak Adli, Rere harus
memberitahu Maurin tentang hal ini.
Tidak hanya saat istirahat, saat berangkat dan pulang sekolahpun Rere dan
Maurin selalu bersama, mereka menggunakan angkot untuk berangkat dan pulang
sekolah. di dalam angkot Rere memberitahu Maurin tentang ulang tahun Kak Adli.
Rere menyarankan Maurin untuk memberi hadiah di hari ulang tahun Kak Adli.
Maurin mempertimbangkan saran Rere, sebenarnya Maurin tidak yakin dirinya
memiliki keberanian untuk memberikan Kak Adli hadiah ulang tahun.
Maurin dan Rere memberhentikan angkot tepat di depan sebuah mall, mereka berdua
memasuki mall dan berjalan menuju salah satu toko pakaian, rencananya Maurin
akan memberikan hadiah ulang tahun berupa baju. Rere memberitahu Maurin bahwa
beberapa teman satu kelasnya juga akan memberikan baju untuk Kak Adli.
“Mending lo kasih hadiah yang beda dari
yang lainnya Rin,” saran Rere. Maurin memikirkan hadiah apa yang akan dia
berikan untuk Kak Adli, hadiah yang berbeda dengan para fans
Kak Adli lainnya. Maurin menemukan ide, Maurin berjalan menuju lantai tiga,
lantai yang menjual berbagai peralatan elektronik. Rere mengikuti langkah kaki
Maurin, Rere sendiri tidak tahu apa yang akan Maurin beli di lantai tiga.
“Kak Adli kan suka banget dengerin
musik, jadi gue mau beliin dia earphone,” ucap Maurin.
“Mantappppppp,” ucap Rere sambil
menunjukkan ibu jarinya.
Tibalah hari istimewa untuk Kak Adli, tepat saat pulang sekolah teman-teman
satu kelas dan juga para fans Kak Adli memberi kejutan ulang tahun untuk Kak
Adli, sebenarnya Maurin juga ingin ikut memberi kejutan untuk Kak Adli, namun
dirinya tidak mempunyai nyali untuk ikut dalam kejutan ulang tahun itu dan
Maurin memilih untuk menemui Kak Adli di parkiran. Ditemani Rere, Maurin
menunggu Kak Adli di samping mobil milik Kak Adli. Tidak lama Kak Adli datang
dengan sekujur tubuh yang penuh dengan tepung putih dan kedua tangan Kak Adli
yang penuh membawa kado-kado. Kak Adli memasukkan kado-kadonya kedalam mobil.
“Happy birth day kak,” ucap Maurin sambil memberikan kado. Tanpa berlama-lama Maurin langsung berjalan meninggalkan Kak Adli setelah Kak Adli menerima kado pemberiannya, sebenarnya Maurin ingin berlama-lamaan berada didekat Kak Adli, tapi dirinya selalu salah tingkah setiap berada didekat Kak Adli, dan Maurin tidak ingin Kak Adli melihat reaksi salah tingakahnya itu.
“Eh tunggu, nama lo siapa?” tanya
Kak Adli. Maurin langsung menghentikan langkahnya, dengan grogi tingkat maximal
Maurin memberitahu namanya. Melihat Kak Adli menanyakan nama Maurin, menurut
Rere sepertinya Kak Adli mulai respect dan sepertinya ada
peluang untuk Maurin menjadi pacarnya.
Pagi itu seperti pagi biasanya, Maurin berangkat kesekolah bersama Rere. Dan
saat mereka berdua berada di parkiran, tanpa sengaja mereka berdua bertemu
gerombolan kelas 12 ips 2, diantara gerombolan itu terlihat Kak Adli. Bukan hal
yang aneh melihat Kak Adli bersama gerombolan itu, karena Kak Adli termasuk
salah satu murid kelas 12 ips 2.
“Jadi si cupu yang ngasih hadiah earphone ke si adli, ehh guys kita lupa ngasih sambutan ke si cupu,” ucap salah satu dari gerombolan itu.
“Telor,telor, bulet,bulet, kepompong, kupu-kupu, ada di cupu… waahahahahahh,” dengan kompak mereka memberi sambutan pada Maurin, tak terkecuali Kak Adli, lebih tepatnya mereka meledek bukan memberi sambutan.
“Lo semua ganti nama orang sembarangan aja, namanya Maurin bukan cupu,” ucap Rere yang mulai tersungut emosi melihat sahabatnya menjadi bahan tawaan mereka.
“Maurin? nggak cocok si cupu namanya
Maurin, cocoknya maumuntah,” ucap salah satu dari gerombolan itu, dan dengan
hitungan detik mereka langsung tertawa.
“Yang namanya cupu, ya tetep aja cupu,”
ucap Kak Adli. Maurin tidak menyangka Kak Adli akan mengatakan hal itu, Maurin
kira Kak Adli berbeda dengan teman-teman satu kelasnya yang suka menghina
Maurin dan sepertinya Maurin salah jika menyangka Kak Adli adalah sosok
laki-laki ramah dan baik kepada siapapun, ternyata Kak Adli sama saja dengan
teman-temannya. Secepat mungkin Maurin berjalan meninggalkan parkiran, Maurin
tidak ingin terus mendengarkan omongkosong mereka tentang dirinya.
“Asal lo tau, Maurin itu nggak cupu, lo
bakalan nyesel sama omongan lo sendiri,” ucap Rere sambil menunjukkan jari
telunjuknya tepat di depan wajah Kak Adli. Rere langsung berlari menghampiri
Maurin yang telah lebih dulu meninggalkan parkiran, Rere tahu betul apa yang
dirasakan Maurin, dia pasti terpukul melihat sosok yang diidolakannya
mentertawai bahkan menghinanya.
Sebenarnya saat istirahat Maurin dan Rere ingin makan dikantin, namun ada omongan yang masuk ketelinga mereka berdua, omongan yang langsung membuat mereka berdua ingin cepat-cepat pergi dari kantin dan menjauh dari orang-orang itu.
“Ehh cupu, itu rambut apa sarang gorilla, bentuknya absurd banget sama kaya muka lo, absurd kaya kerak telor,”
“Mikirin aja dulu diri sendiri, bentuk
lo aja nggak jelas, berani-beraninya lo mikirin adli, ngasih kado lagi, sok
kecantikan banget,”
“ Kalo liat si cupu
sama temen karibnya jadi keingetan film yang judulnya beauty and the beast ya,
si cupu cocok banget jadi beastnya,”
si cupu kalo diliat-liat cantik ya, mirip putri, putri kodok tepatnya whahahaha,”
Omongan mereka itulah yang membuat emosi, di posisi ini, Rerelah yang emosi
melihat teman karibya menjadi bahan ledekan teman-teman bahkan seniornya, Rere
tidak ingin Maurin terus dihina dan direndahkan. Berbeda dengan Rere, Maurin
tidak terpancing emosi dengan kejelekan omongan mereka, walaupun sebenarnya
omongan mereka begitu melukai hati Maurin, tapi Maurin tetap sabar menanggapi
mereka.
“Gue mau jadi diri sendiri Re,” ucap Maurin ketika Rere memintanya untuk merubah penampilannya.
“Gue nggak minta lo jadi diri orang lain Rin, gue cuman minta lo make over penampilan lo, gue nggak mau lo terus jadi bahan olokan anak 12 ips 2,” ucap Rere. Maurin tidak tahu apakah dirinya harus merubah penampilannya untuk membuat para kakak kelasnya berhenti meledeknya, di sisi lain Maurin berfikir untuk pindah sekolah berhubung beberpa minggu lagi adalah liburan pertengahan semester.
“Yang namanya cupu ya tetep aja cupu,
mau diapain juga gue bakalan tetep jelek Re”, ucap Maurin.
Hari pertama setelah libur pertengahan semester, disepanjang jalan menuju kelas
Maurin terus menjadi pusat perhatian. Saat liburan pertengahan semester Rere
membantu Maurin untuk merubah penampilannya total, Maurin merubah tatanan
rambutnya, rambut keriting yang tidak beraturan kini berubah menjadi rambut lurus
yang indah, Maurin melepas behel di giginya dan membuat giginya menjadi lebih
rata, kini Maurin tidak lagi membutuhkan kacamata tebal untuk membantunya
melihat karena sekarang Maurin menggunakan softlens yang membuat matanya jauh
lebih indah. Maurin juga merubah cara berjalannnya, dulu Maurin berjalan
sedikit membungkuk dan menunduk, sekarang Maurin berjalan melenggang seperti
model di atas catwalk, dengan adanya perubahan pada diri Maurin,
Maurin tidak lagi mendengar hinaan dan ledekan, semua hinaan dan ledekan itu
berganti menjadi pujian, mereka terpana melihat Maurin yang sekarang.
“Ini sih bidadari…,”
“Dia bener-bener mirip putri, putri
salju yang buat hati gue membeku,”
“Coba aja dari dulu Maurin cantik kaya
gini, udah gue bawain kambing sepuluh ekor buat ngelamar dia,”
“Rela gue nggak naik kelas, biar bisa
satu angkatan sama adek kelas cantik kaya dia,”
Cupu, Maurin tidak lagi mendapatkan sebutan cupu dari teman-teman dan
seniornya, mereka yang dulunya menghindar ketika Maurin mendekat, kini mereka
mulai mendekat, dulu mereka menganggap Maurin seperti sosok yang tidak
terlihat, sekarang mereka mulai melihat Maurin sebagai sosok yang cantik. Tidak
terkecuali Kak Adli, Maurin sangat senang melihat Kak Adli mulai mendekat dan
perhatian tanpa Maurin minta. Bahkan Kak Adli meminta maaf atas semua
perbuatannya yang membuat Maurin sakit hati.
“Dari dulu lo sukakan sama Kak Adli,
yaudah terima aja,” ucap Rere. Maurin meminta saran Rere tentang Kak Adli yang
menyatakan perasaannya pada Maurin saat pulang sekolah tadi, Maurin merasa
perasaan sukanya dulu pada Kak Adli kini terbalaskan. Keesokan harinya tepat
saat pulang sekolah Maurin memberikan jawaban pada Kak Adli, Maurin yakin ini
adalah jawaban yang tepat dan sesuai dengan perasaan Maurin.
“Gue nggak bisa jadi pacar lo kak,”
ucap Maurin sambil tersenyum manis. Maurin menepuk punda Kak Adli kemudian
pergi meninggalkan Kak Adli.
Maurin sudah memaafkan semua perbuatan Kak Adli dan teman-temannya yang sangat
melukai hati Maurin, tapi Maurin tidak akan lupa dengan perbuatan mereka,
Maurin hanya akan menyukai seseorang yang bisa menerimanya apa adanya, bukan
seseorang yang menerimanya dari segi fisik dan kecantikan saja. Rere yakin
keputusan yang diambil Maurin adalah pilihan terbaik. Meskipun Maurin telah
berubah dari segi penampilan, tapi Maurin tidak merubah kepribadiannya, Maurin
tetap Maurin yang dulu, Maurin yang rendah hati. Maurin rasa mereka yang
dulunya menghina Maurin harus belajar bagaimana cara menghargai seseorang
sebelum belajar untuk mencintai seseorang.
Komentar
Posting Komentar