Cold couple

Aku atau Temanmu

Aku atau temanmu

By: osietari

            Sebenarnya menjadi pacar salah satu ketua club motor bukanlah kemauanku ataupun visi dan misiku dalam hal percintaan. Aku juga tidak tahu mengapa aku menyukainya, yang jelas aku merasa kehilangan jika sehari tidak melihatnya dan terkadang aku senyum-senyum sendiri melihatnya. Dia adalah teman satu sekolahku, hanya saja kita beda jurusan dan kelas. Awal pertemuanku dengannya adalah saat aku menghadiri acara anniversary Widy sahabatku dengan pacarnya (hampir tertawa aku saat Widy memintaku untuk datang ke acara anniversary satu bulan berpacaran dengan pacarnya, menurutku itu sedikit berlebihan). Dan siapa yang menyangka dari acara itu aku bertemu dengannya, dia mengantarku pulang sampai rumah. Sebelum mengantarku pulang, aku dan dia sempat berkenalan, namanya Angga.

            Sejak acara itu aku dan Angga sering berbalas chat whatsapp dan kita semakin dekat. Saat istirahat sekolah, tiba-tiba saja dia menghadangku di depan pintu kelas, dia memintaku untuk membantunya mencari buku di perpustakaan. Aku merasakan sedikit keanehan. Pertama, Angga bukanlah tipikal orang yang suka membaca. Kedua, dia sedikit memaksaku untuk membantunya mencari buku di perpustakaan.

“Bukunya judulnya apa?“ tanyaku.

“Judulnya apa ya, gue lupa, pokoknya sampulnya warna merah, gue pernah liat ditumpukan rak belakang,“ ucapnya. Mencari buku tapi tidak tahu apa judulnya judulnya, sedangkan dia hanya tahu buku itu bersampulkan warna merah, dan di perpustakaan ini begitu banyak buku warna merah, LUAR BIASAH. Aku mencari di rak buku paling belakang, Angga menunjuk buku bersampul merah dan memintaku unuk mengambilnya. Aku mengambilnya dan membaca judul buku itu.

“I love you ?“ ucapku membaca judul buku itu. dia datang kekelasku, mengambil waktu istirahatku hanya untuk mencarikannya novel genre romance?, seriously?.

“Judul itu mewakilli perasaan gue ke lo, I love you Ana, gue suka sama lo,“ ucapnya. Dan begitulah moment dia menyatakan cintanya padaku.

            Saat pulang sekolah Angga mengantarku dan terkadang dia tidak bisa mengantarku, lebih seringnya dia tidak bisa mengantarku karena ada hal yang harus dilakukannya dengan club motornya. Saat itu aku menunggu Angga di depan gerbang sekolah, dia mengatakan padaku bahwa hari itu dia akan mengantarku pulang kerumah. lima menit menunggu, aku masih bersabar. Sepuluh menit menunggu, aku mulai sedikit bosan dan hampir dua puluh menit aku menunggu, akhirnya aku naik angkot pulang kerumah.

            Saat itu, tepatnya setelah pulang sekolah aku dan Widy membeli beberapa makanan ringan dan minuman, rencananya malam ini aku akan menginap di rumah Widy dan kita berdua berbelanja makanan dan minuman untuk menemani kita berdua nanti malam. Dan tanpa sengaja kita berdua bertemu Anton. Anton adalah pacar setia dan sehati Widy.

“Kamu nggak mau aku anterin sampe rumah,“ tanya Anton.

“Enggak, aku sama Ana mau naik angkot,“ ucap Widy.

“Yaudah kamu hati-hati di jalan ya, jangan kebanyakan senyum, kasian orang lain yang ngeliat kamu nanti diabetes, senyum kamu manis banget soalnya,“ ucap Anton. Widy tersenyum malu, sedangkan aku hanya bisa menggeleng melihat adegan romantis mereka berdua.

            Setiap malam minggu aku biasa menginap di rumah Widy, banyak hal yang kita berdua lakukan, mulai dari maskeran, karaoeke-an, ataupun curhat masalah asmara, dan malam ini aku dan Widy menonton film romance sambil ngemil beberapa snack yang kita berdua beli di supermarket. Dering handphone berbunyi, aku langsung mengambil handphoneku dan melihat pesan yang masuk. Ternyata dering handphone itu dari handphone Widy bukan handphoneku. Aku melihat Widy senyum-senyum sendiri membaca pesan masuk di handphonenya.

“Whahhahahahha…,” tiba-tiba saja Widy  tertawa, mengagetkanku.

“Lo kenapa sih, lo nggak sakit jiwa kan ??“ tanyaku. Widy masih saja tertawa dan mencubit pipiku, membuatku semakin merasakan keanehan pada dirinya.

“Si Anton, ngegombal gaje banget, bikin gue pingin ngakak,“ ucap Widy tertawa. Oohhh Anton, malam-malam begini masih sempat saja dia menggombali pacarnya. Hari sudah semakin malam, aku bahkan mulai merasakan ngantuk, tapi Widy masih memainkan handphonenya, sepertinya Widy masih sibuk membalas chat Anton.

“Anton sering ya ngechat lo?“ tanyaku.

“Nggak sering Na, tapi sering banget, setiap hari dia ngechat gue, pagi, siang, sore, malam. Perhatian banget dah pacar gue yang satu ini,“ ucap Widy.

“Pacar gue yang satu ini?, emang pacar lo ada berapa Dy?“ tanyaku.

“Ada dua, Anton sama Ana…”, ucap Widy tertawa.

“Wahh, bener-bener waras lo,“ ucapku tertawa. Anton dan Angga sama-sama anak  club motor bahkan mereka berdua satu genk, Anton setiap hari perhatian bahkan selalu ada disaat Widy membutuhkan. Sedangkan Angga?, terkadang dia lupa dengan janjinya, dia saja lama membalas chatku, dia sangat berbeda dengan Anton.

            Hari itu aku ada pelajaran tambahan, membuatku pulang hampir sore. aku menelephone Pak Maman untuk menjemputku dan sayangnya Pak Maman sedang berada di bengkel dan tidak bisa menjemputku. Jam segini angkot dan ojek sudah tidak ada yang lewat, lalu bagaimana aku pulang?, saat aku melewati parkiran, aku melihat Angga dan teman-temannya. Aku menghampiri Angga dan saat melihatku Angga menghampiriku.

“Kamu kok belom pulang? “ tanya Angga.

“Tadi ada jam tambahan, kamu bisa nggak anterin aku pulang, Pak Maman nggak bisa jemput,“ ucapku.

“Yahh sorru banget yang, aku nggak bisa anter kamu pulang, aku udah ada janji sama anak club motor. lain kali aku anter kamu pulang ya “, ucapnya.

            Berhubung Angga tidak bisa mengantarku akupun menunggu angkot di depan gerbang sekolah, meskipun aku tahu mustahil angkot lewat dijam segini. Untung saja ada teman satu kelasku yang menawarkan tumpangan, jadi aku pulang bersamanya.

            Malam minggu kali ini berbeda dengan malam minggu sebelumnya, Angga datang ke rumahku. Saat mengetahui Angga datang ke rumah, aku berharap waktu berputar agak lambat agar aku bisa lama-lama berdua dengannya.

“Tumben kamu main ke rumah?” tanyaku. Angga menjawab dia kangen sama pacarnya, itu adalah jawaban yang ku harapkan, jawaban yang bisa membuat pipiku merona dan jantungku berdebar seperti yang Anton lakukan pada Widy. Aku kira Angga datang ke rumahku karena dia ingin bertemu denganku ataupun karena dia ingin menghabiskan banyak waktu denganku, ternyata kedatangannya kerumahku karena laptopnya rusak dan dia ingin meminjam laptopku.

Zoonk,
Aku mengambil laptop dari dalam kamarku, aku kira Angga meminjam laptopku untuk mengerjakan tugas ataupun mengirim tugas sekolah dan ternyata dia meminja laptopku untuk membuat desain t-shirt club motornya.

Double Zoonk,
 Angga mulai menyalakan laptopku dan membuka aplikasi desains, tanpa membuat pola di kertas, dia langsung membuat pola t-shirt club motornya di aplikasi itu, Angga begitu mahir dan detail dalam membbuat desain t-shirt itu, tanpa membutuhkan waktu lama dia telah membuat hasil rancangan t-shirt, Angga tinggal memberi warna pada rancangan t-shirt.

“Menurut kamu t-shirtnya bagusan warna apa?” tanya Angga. Aku menyarankan warna putih, karena aku rasa laki-laki jika menggunakan pakaian berwarna putih akan terlihat lebih casual  dan rapih. Angga mengatakan bahwa kebanyakan teman-temannya tidak menyukai baju berwarna putih, jadi warna putih kurang cocok untuk warna t-shirt itu. Angga kemudian memilih warna abu-abu. Setelah itu angga meminta saranku tentang warna apa yang tepat untuk mewarnai tulisan pada t-shirt itu. kuning agak orange, aku menyarankan tulisan pada t-shirt itu berwarna kuning sedikit orange, karena kurasa warna itu memberi efek tulisan nampak sedikit hidup. Angga mengatakan warna itu kurang cocok karena ada salah satu temannya yang phobia terhadap warna kuning. Angga mengatakan ada beberapa warna pantangan yang tidak bisa digunakan yaitu bitu, salah satu temannya ada yang trauma warna biru. Kemudian warna merah maroon, hal itu karena ada kejadian tidak mengenakan yang dialami anak club motor dan berkaitan dengan warna merah maroon. Kenapa aku jadi merasa teman-teman angga rempong, melebihi rempongnya emak-emak arisan?.

“Kamu besok mau aku kado apa?” tanya Angga. Bagaimana reaksiku saat mendengar Angga menanyakan hal itu, terpenganga, apakah aku harus senang, apakah aku harus bingung, aku tidak tahu.

“Emang besok kenapa? Dalam rangka apa kamu mau ngasih aku kado? besok bukan hari tukar kado dan besok juga bukan hari valentine” ucapku.

“Besokkan kamu ulang tahun” ucap Angga.

Triple zoonk,
Seketika mukaku berubah jadi Absurd, ulang tahunku masih jauh, sekitar delapan bulan lagi. Seriously dia lupa hari ulang tahunku.

“Yaampun aku lupa, sorry sayang, besok itu ulang tahunnya Roni temen nongkrong aku, dia anak club motor juga. Kalo ulang tahun kamu sih bulan juli” ucap Angga.

 “Aku ulang tahun bulan september” ucapku dengan raut wajah yang masih absurd.

“Oh iya, bulan juli sih ulang tahunnya si Bambang, ulang tahun kamu kan tanggal 12 september” ucap Angga tersenyum menutupi kesalahannya.

“Aku ulang tahun tanggal 28 september” ucapku dengan wajah datar dan ngenes melihat Angga lupa hari ulang tahun pacarnya sendiri, sedangkan dia ingat ulang tahun teman-temannya Roni, Bambang, yang bahkan aku tidak tahu siapa mereka.

“Sorry,” ucap Angga memperlihatkan deretan gigi putihnya.

            Saat bell pulang sekolah berbunyi, angga menghadangku di pintu kelas.

“Aku anterin kamu pulang ya” ucapnya. Di sepanjang jalan menuju parkiran, aku terus memperhatikannya, sepertinya ada yang salah dari orang yang kini berjalan bersamaku, tidak bisanya dia menawarkan pulang bersama, bisanya aku yang memintanya mengantarku pulang, aku yang memintapun terkadang dia tidak bisa mengantarku karena ada urusan dengan teman-teman genknya dan club motornya. Saat lampu merah Angga mengatakan bahwa nanti malam dia akan mengajakku ke acara ulang tahun temannya yang bernama Roni. Rupanya dia mengantarku pulang untuk memintaku menemaninya.

“Makasih udah mau nganterin, kamu nggak mau mampir dulu?” tanyaku.

“Aku mau ketemu sama anak-anak club motor dulu, lain kali deh aku mampir” ucap Angga tersenyum.

            Dan saat sore tiba angga menjemputku, ekspresi pertamaku saat melihat angga menjemputku sore itu adalah terpana, terpana melihat angga terlihat semakin tampan dan rapih. di acara ulang tahun Roni aku melihat sesosok perempuan yang tidak asing. widy, dia rupanya datang di acara ini. saat melihatku widy langsung memelukku dan mengatakan padaku bahwa makanan disini semuanya enak dan aku harus segera mencoba sebelum nantinya kehabisan. Aku duduk disamping angga, angga sibuk bercerita dengan teman-temannya, aku hanya menjadi pendengar setia, aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dibicarakan mereka. lama kelamaan aku merasa bosan, aku menghampiri widy yang asik makan ditemani pacar setianya Anton. Melihat anton begitu perhatian pada widy membuatku iri, dari kejauhan aku melihat angga yang masih sibuk berbincang dengan teman-temannya. Saat bersamaku angga tidak pernah tertawa sebahagia dan selepas itu, dan saat bersama teman-temannya aku melihatnya begitu bahagia.

            Untuk apa angga memintaku menemaninya, jika dia sendiri sibuk bersama teman-temannya. semakin lama, aku semakin bosan di acara ini.

“Angga, aku mau pulang” ucapku. Angga memintaku untuk menunggu sebentar, sebentar lagi dia akan mengantarku pulang. Akupun duduk menunggu Angga mengajakku pulang, aku duduk disamping Angga yang sibuk berbicara dengan teman-temannya. Sepuluh menit, lima belas menit dan begitu lama Angga tidak juga mengajakku pulang ke rumah. Aku langsung mengambil tasku dan pergi meninggalkan tempat ini, melihatku pergi begitu saja, Angga langsung mengejarku.

“Sekarang aku nggak bisa anter kamu pulang, aku nggak enak sama roni sama yang lain juga. pulangnya nanti ya, nggak lama lagi acaranya selesai,” ucap Angga.

“Kamu selalu pikirin perasaan temen-temen kamu, apa kamu pernah pikirin perasaan aku?” ucapku.

“Sekarang aku tanya sama kamu, kamu pilih aku atau teman-teman kamu?,” tanyaku. Angga terdiam, aku butuh kepastian, jika dia memilih teman-temannya aku akan mundur dan tidak akan mengganggunya saat bersama teman-temannya lagi.

“Aku anterin kamu pulang,” ucap Angga menggenggam tanganku. Jelas terlihat di wajahnya kalau angga tidak bisa kehilangan teman-temannya, aku tahu dia nyaman dan bahagia saat berada di dekat teman-temannya bukan denganku. Teman-temannya selalu diutamakan, tidak denganku.

“ Aku butuh seseorang yang selalu ada buat aku, seseorang yang ngerti perasaan aku, dan kamu nggak pernah jadi seseorang itu. kebahagiaan kamu sama teman-teman kamu, bukan sama aku,” ucapku. aku melepaskan genggaman tangannya dan pergi meninggalkan Angga. Entah benar atau salah keputusan yang kupilih, aku memilih untuk mengakhiri hubunganku dengan Angga.

            Dari angga aku belajar bahwa mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang yang kita sayangi adalah hal yang menyenangkan dan tidak terlupakan, diacuhkan dan tidak di perhatikan orang yang kita sayangi juga merupakan hal jauh tidak tidak terlupakan dan sangat menyakitkan.


Komentar