Cold couple

A Dullard

A dullard
(SI CEROBOH)

BY: OSIETARI

Setelah bell pulang sekolah aku tidak langsung pulang kerumah karena ada ekstra kulikuler kimia yang ku ikuti, bukan karena bakatku yang membuatku memilik ekstrakurikuler kimia, aku memilih ekstrakurikuler kimia karena kemauan mamaku. Dalam hal kimia aku sebenarnya sangat payah, namun mama mengancam akan memotong uang sakuku, mengambil handphone dan juga  laptopku bila aku tidak mengikuti dan menjadi anggota ekstrakurikuler kimia.

Dan hari ini adalah hari pertama aku mengikuti ekstra kimia. Dari ruang kelasku aku berlari untuk dapat sampai laboraturium tepat waktu, laboraturium adalah tempat dimana kegiatan ekstra kimia berlangsung. Aku kira dengan berlari aku tidak akan terlambat, hasilnya sama saja, aku terlambat masuk laboraturium. Semua mata penghuni laboraturuim mengarah kearahku, aku hanya bisa tersenyum menunjukkan deretan gigiku. Untung saja aku mendapat keringanan hukuman karena hari ini adalah hari pertamaku ikut ekstra kimia. Professor adalah penanggung jawab sekaligus pengajar di ekatrakurikuler ini, dia memintaku untuk duduk di meja panjang paling belakang dipojok, aku bejalan sambil menata rambutku yang berantakan dan mengatur nafasku yang tersenggal-senggal karena lari tadi. Aku duduk tepat disamping seorang laki-laki dengan badge kelas diseragamnya yang bertuliskan kelas 12, rupanya dia adalah kakak kelas. Aku baru mengetahui bahwa ternyata keberadaan para senior adalah untuk membimbing para junior yang merupakan anggota baru ekstra kurikuler kimia.

Praktek pertama adalah memasukkan telur ayam bulat kedalam tabung yang berisikan air garam dan juga tabung yang berisikan air cuka. Para junior diminta untuk melakukannya, didampingi para senior. memasukkan telur kedalam tabung yang berbentuk seperti gelas pasti bisa kulakukan dengan mudah, bahkan dengan tutup mata saja aku bisa melakukannya. Faris nama kakak kelas yang bertugas membimbingku. Kuisi tabung itu dengan air garam dan kumasukkan telur ayam itu kedalamnya dan hal yang terjadi adalah telurnya pecah, aku yakin telurnya pasti murahan sehingga mudah pecah.

“Lo masukin airnya kesedikitan, terus masukin telur ayamnya seharusnya pelan aja, jangan dilempar. “ ucap Kak Faris. Yang kuherankan bukan praktekku yang gagal, tetapi semua anggota junior mencuri-curi pandang pada Kak Karis. Jujur Kak Faris memang tampan dan manis dan sepertinya dia juga baik hati, beruntung aku mendapatkan pembimbing dengan bentuk seperti pangeran bersayap, maksudnya malaikan bersayap.

            Ku tambahkan air garam kedalam tabung dan kumasukkan telur ayam kedalamnya dan yang terjadi adalah air garam itu sedikit mengenai mata Kak Faris, membuat Kak Faris sedikit beteriak, aku tidak tahu teriakannya termasuk dalam jenis teriakan apa, tapi yang jelas suara teriakannya cool banget, melebihi coolnya coolkas.

“Lo masukin telurnya pelan aja, jangan dilempar, airnya jadinya kemana-mana kan,“ ucap Kak Faris menahan perih di wajahnya. Aku hanya bisa menunjukkan senyumku untuk menutupi kesalahanku dan meminta maaf dengan memasang tampang imutku yang seimut peri kecil menggemaskan.

Ekstra kimia berlangsung setiap hari senin hingga kamis, dan dihari kedua Professor meminta para muridnya untuk melihat mikroba melalui mikroskop. Sepertinya hanya melihat makhluk kecil melalui benda seperti teropong itu bisa kulakukan dengan mudah, Kak Faris membimbingku untuk menggunakan alat bernama mikrosop itu dengan hati-hati karena harganya tidak murah dan siswa akan mendapatkan point pelanggaran bila merusaknya. aku hanya melihat melalui mikroskop bukan?, dan tidak mungkin mataku bisa merusak alat itu.

            Aku mulai melihat mikroba yang entah wujudnya seperti apa aku pun tidak tahu, kulihat mikroba itu melalui lensa kanan mikroskop sedangkan Kak Faris melihatnya melalui lensa kiri. Bulu kudukku merinding saat melihat hewan kecil seperti cacing menggeliat, sontak aku langsung menjauhkan kepalaku dan kepalaku justru membentur mengenai kepala Kak Faris,  tubrukan antar kepala itu lumayan membuatku sedikit meringis dan membuat kepalaku sedikit berkupu-kupu. Kak Faris menatapku dengan pandangan sedikit dingin, sedikit apanya, dia menatapku dengan tatapan sangat dingin dan aku hanya bisa tersenyum dan,,,

“Sorry kak..,” ucapku sambil menyengir menunjukkan tampang imutku seperti bidadari dari langit ketujuh. Anggota junior hanya bertugas untuk menggambar bentuk mikroba sedangkan untuk anggota senior diberi tugas untuk menganalisa jenis mikroba dan ciri-cirinya. Sebenarnya aku lupa bagaimana detail bentuk mikroba itu, ku gambar asal mikroba itu seperti cacing dan kuberi bulu-bulu biar tampak cantik dan tidak lupa aku selfi dengan alat mikroskop itu sambil menunjukkan jari tengan dan jari telunjukku  membentuk huruf v. Tangan kananku meyenggol mikroskop itu dan membuat alat itu bergerak kebawah alias jatuh, aku hanya bisa menutup mataku dan dengan cepat Kak Faris memegang mikroskop itu.

“Lo jadi anak nggak bisa diem banget sih…,” ucap Kak Faris sedikit kesal.

“Sorry kak nggak sengaja, “ ucapku. Lagi-lagi aku menampakkan wajah super imutku, Kak Faris melanjutkan menulis tugas analisanya, untung saja mikroskop itu tidak jadi terjatuh, jika terjatuh dan dan mikroskop itu hancur tidak berbentuk, aku pasti diminta untuk menggantinya. Mama pasti memarahiku, ditambah lagi aku akan mendapatkan point pelanggaran karena merusak fasilitas sekolah, hancur sudah hariku. Untung saja ada Kak Faris yang jutek dan ganteng itu menolongku. Tidak rugi aku mendapatkan senior jutek seperti dia.

Genius, hanya orang geniuslah yang bisa menghafal berbagai zat kimia dalam waktu tiga puluh detik, hari ini Professor meminta para anggota junior untuk menghafalkan berbagai zat kimia dalam waktu tiga puluh detik. Kesulitanku adalah menghalaf, menghafal nama keluarga besar mama dan papaku saja aku tidak pernah hafal, bahkan nama nenekku sediri sulit kuhafalkan, Prof. Hj. Mandaelsa Nyiutih Sekararum Yoga Haltantrono Putri Ayu Keswaranindah, namanya lebih panjang dari pada panjangnya harapan jomblo buat dapet jodoh. Bagaimana aku menghafal nama-nama zat kimia. Professor menghampiri satuper satu meja dan memberi pertanyaan seputar nama-nama zat kimia pada anggota junior. Kini giliranku untuk menjawab pertanyaan Professor, semua pertanyaan berhasil kujawab tanpa celah. Aku bangga pada diriku sendiri… yuhuuu yeaaahhhh,

“Curang aja bangga,“ ucap Kak Faris yang duduk disampingku.

“Kak jangan sok tau deh,“ ucapku sambil mengibas rambut panjangku yang lembut seperti kain sutra ke arahnya, bukan bersikap tidak sopan pada senior, hanya saja dia selalu mengomeliku, membuatku geram.

“Itu ditelapak tangan lo ada contekannya, “ ucap Kak Faris.

            Sial, aku tertangkap basah. Kecuranganku diketahui Kak Faris, Kak Faris tersenyum devil melihatku kaget kecuranganku terbongkar. Jika Kak Faris melapor pada Professor bahwa aku membuat contekan ditangaku, habis sudah riwayatku. Aku pasti harus mengulang pertanyaan dari professor, sedangkan tanpa contekan aku masih belum hafal semua nama-nama zat kimia.

“Kak damai deh, please jangan kasih tau Professor kalo gue curang,“ ucapku. Kak Faris membuat kesepatakan, dia memintaku untuk tidak melakukan kesalahan selama praktek dan tidak membuatnya kesusahan karena kecerobohanku dan apa bila aku melakukan semua itu, aku harus pindah tempat duduk dan mencari senior lain  untuk membimbingku. Jika suatu saat aku melakukan kesalahan dan aku tidak pindah tempat duduk, Kak Faris akan mengatakan pada Professor tentang kecuranganku. Aku setuju dengan kesepakatan itu, aku yakin aku pasti bisa lebih berhati-hati saat praktek nanti dan juga aku itu tidak ceroboh hanya saja aku sedikit khilaf.

            Praktek selanjutnya adalah Praktek mencampur berbagai zat kimia untuk menghasilkan sebuah uap gas. Gambaran pertama saat mama menyuruhku ikut ekstra kimia adalah aku mengenakan jas lab berwarna putih dan mencampur berbagai cairan warna-warni kedalam tabung kimia. Saat professor meminta anggota junior dan senior untuk melakukan praktek mencampurkan berbagai zat kimia itu, mataku menjadi berbinar-binar. Akhirnya aku bisa mengenakan jas lab, rasa senang memakai jas lab melebihi rasa senangku saat menang undian jodoh di salah satu mall.

“Lo stress ya..,” ucap Kak Faris saat melihatku senyam-senyum saat memakai jas lab, bahkan aku mencium-cium jas lab yang kukenakan. Aku tidak memperdulikan ucapan Kak Faris dan terus tersenyum memakai jas lab, aku bahkan memengang tabung lab dengan cairan warna warni didalamnya dengan senyuman histeris. Tidak lupa aku mengabadikan kesempatan ini dengan berselfie ria. Kak Faris memiringkan jari telunjukkan di dahinya saat melihatku tersenyum senang tidak jelas.

“Jangan sampe salah lo campur cairannya, biru sama ungu bukan biru sama merah, inget biru sama ungu bukan biru sama merah, inget biru sama ungu bukan biru sama merah, inget bi.. “,

“Iya-iya, tau gue kak, nggak usah bawel gue jugak udah hafal,“ ucapku memotong perkataan Kak Faris.

Dengan perlahan aku mencampir kedua cairan itu dan yaps. Aku berhasil..

            Berhasil membuat ledakan di meja ku dan membuat wajahku dan Kak Faris merah terkena ledakan cairan itu, kenapa aku begitu lalai. Hanya mencampurkan cairan kimia saja aku tidak bisa, semua teman-temanku dan senior didalam lab mentertawaiku dan Kak Faris yang saat ini berwajah absurd. Professor bahkan tertawa melihatku dan Kak Faris.

“Lo sih kak cerewet, buat konsentrasi gue buyarr..,” ucapku sedikit kesal, walapun sebenarnya yang patut disalahkan adalah kecerobohanku.

            Aku kira karena aku membuat Professor tertawa, aku akan terbebas dari hukuman. Professor bahkan masih memberiku hukuman, bukan hanya aku yang dihukum, Kak Faris juga ikut dihukum. Kita berdua dihukum membersihkan Ruang Laboratorium dan membawa semua jas lab ketempat laundry. Aku kira Kak Faris akan marah karena dia terlibat dalam hukuman ini, dia justru terihat santai dan kadang tersenyum, bahkan senyumannya seperti senyuman bahagia karena melihat barang discount.

“Lo buat kesalahan dan mulai ekstra besok lo cari partner senior yang lain dan gate out dari tempat duduk ini,“ ucap Kak Faris tersenyum sambil menunjuk meja praktek yang biasa di tempatiku dan Kak Faris. Sepertinya Kak Faris begitu bahagia karena aku tidak akan menjadi partnernya. Dia fikir aku akan merasa kehilangan kalau dia tidak menjadi partner praktekku. Cowok model seperti Kak Faris itu pasaran dan banyak ditemuin di pinggir-pinggiran pasar. lagi pula tidak ada yang istimewa dari sosok standar yang memiliki sedikit kegantengan seperti dia.

Kak Mawar, dia adalah anggota senior baru yang ikut ekstra kurikuler kimia dan dia yang akan menjadi partner sekaligus pembimbingku selama praktek. Akulah yang meminta Professor untuk mengganti tempat dudukku dan mencarikanku senior pempimbing yang lain dan professor menyetujuinya.

            Praktek kali ini adalah mengamati hewan amphibi cacing. Sepertinya kesalahanku dan kelalianku selama praktek bersama Kak Faris adalah karena aura buruk dari Kak Faris yang membuatku sial. Dan setelah Kak Mawar menjadi partner baruku, aku yakin aku akan sukses tanpa cacat melakukan segala praktek. Aku mengambil cacing itu menggunakan penjepit dengan hati-hati, Kak Mawar dengan senyuman manisnya menyemangatiku. Aku yakin dia adalah perempuan manis dan baik hati seperti bidadari. Cacing itu bergerak-gerak dan tidak bisa dikendalikan, karena keaktifan cacingitu, cacing itu terlepas dari penjepit yang ku pegang dan jatuh mengenai rok Kak Mawar.  Aku langsung mengambilnya cacing itu dan meminta maaf. Terlihat jelas bahwa Kak Mawar takut pada cacing. Dan terlihat bahwa Kak Mawar adalah orang yang baik karena dia tidak memarahiku.

“Nggak papa dek, its okay…,” ucap Kak Mawar sambil tersenyum menutupi rasa takutnya pada cacing. Kulihat sosok mantan partner mentertawaiku, kakak kelas yang memiliki anugerah sedikit ganteng itu memalingkan pandangannya saat aku melihatnya tertawa, lebih tepatnya saat aku melihat dia mentertawaiku.

            Praktek dihari selanjutnya masih tentang menganalisa cacing, kali ini cacing yang dianallisa dalam jumlah banyak, cacing itu terkumpul dalam sebuah wadah dengan tanah. Professor bilang itu adalah baby cacing, biasanya baby itu imut-imut dan menggemaskan seperti aku, tapi baby cacing sama sekali tidak menggemaskan, dia justru imut-imut menggelikan dan membubat bulu kuduk merinding. Berhubung jika aku yang memegang atau mengambil cacing itu ditakutkan akan terjadi kejadian yang tidak diharapkan, jadi yang bertugas memindahkan baby cacing yang nggak imut itu kedalam alat pendeteksi adalah Kak Mawar. Aku hanya bertugas mencatat perbedaan yang ada pada induk cacing dan baby cacing.

Kak Mawar mulai mengambil wadah yang berisi cacing itu dengan rasa geli untuk ditelitinya. Sedangkan aku sibuk mencari pulpenku didalam tas yang tidak kunjung ketemu, tanpa pulpen mana bisa aku mencatat hasil analisa. Begitu bahagianya menemukan pulpen yang sebelumnya menghilang entah kemana sampai-sampai lenganku yang menyenggol bahu kak mawar sontak Kak Mawar langsung,

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..,“ teriak Kak Mawar saat cacing-cacing dalam wadah yang dipegangnya jatuh semua mengenai kepalanya. Kak Mawar histeris melihat hewan yang ditakutinya kini bergerak-gerak diatas kepalanya, histerisnya Kak Mawar bahkan hampir sama dengan histerisnya orang-orang yang kesurupan setan kesepian yang menakutkan ditengah hutan yang sangat mengerikan. Melihat banyak baby cacing diatas kepala Kak Mawar, aku jadi berkhayal Kak Mawar menjadi ratu cacing di kerajaan cacing, dengan situasi seperti ini  sempat-sematnya aku berkhhayal. Aku langsung membantu mengambili satu demi satu cacing yang ada diatas kepala Kak Mawar. Kak Mawar menarik-narik bajuku sambil menangis, dia memintaku untuk cepat menyingkirkan hewan amphybi diatas kepalanya itu. Kak Mawar sudah seperti anak kecil miris yang menangis meminta permen manis.

            Saat kejadian itu, Kak Mawar langsung berhenti ikut ekstrakurikuler kimia. Dan aku bersama partner seniorku yang baru lagi. Namanya Kak Melati, namanya sepertinya melambangkan sikap ramah, baik hati, sopan dan santun. Aku salah menilai kakak kelas yang bernama Melati itu. sikapnya tidak sebagus namanya. Dia terus memarahiku setiap aku melakukan kesalahan, dia selalu berbicara dengan nada tinggi, aku jadi berasa seperti orang bolot yang sama sekali tidak bisa mendengar. Suaranya begitu menggelegar seperti petir yang menyambar dan membelah lautan. Perkataannya seperti panah tajam yang tepat mengenai hatiku.

“Dasar begooo,“

“Ceroboh banget sih lo…,”

“Yaampun lo tu lebih ceroboh dari pada kakek-kakek omopong di panti jompo yang sukanya ngompol tau nggak,“

“Kayaknya lo musti les private deh sama sipanse kalo nggak anjing cihua hua biar lo pinter dikit kaya mereka,“

“Lo itu lebih ceroboh dari gajah di Ragunan tau nggak,“

            Aku benar-benar tidak tahan dan ingin keluar dari ekstrakulikuler kimia, dia selalu menghinaku. Sebegitu cerobohkan aku sampai-sampai dia begitu marah padaku. pada pertemuan praktik kali ini aku sudah tidak bersemangat lagi mengikuti ekstrakurikuler. Dan saat sosok itu datang duduk disampingku.

“Kak Faris ngapain duduk disini..,” tanyaku kaget.

“Gue minta Professor buat tuker partner dan tempat duduk gue sama Melati, miris gue geliat lo diomelin Melati terus, lo jadi mirip kaya anak kucing yang kena gizi buruk, Ngenes..,“ ucap Kak Faris sambil tertawa.

“Lo pasti kangen kan sama gue ?“ ledel Kak Faris padaku.

“Enggak …,”,ucapku. walaupun sebenarnya aku kangen sosok kakak kelas ganteng super maximal disampingku ini, yang selalu tabah menghadaiku.

“Ooh, kalo gitu berarti gue yang kangen sama lo,“ ucap Kak Faris. Kakak kelas cerewet ini rupanya bisa menggombal, gombalannya bahkan membuatku melting seperti iler mengalir. Dan praktik kali ini adalah membelah kodok. Berhubung aku tidak ingin membuat partnerku ini jadi keluar dari ekstrakurikuler kimia seperti Kak Mawar, aku tidak akan membelah kodok itu, aku hanya memegang kodok dan Kak Faris yang membelahnya.

            Kecerobohanku terjadi lagi, kodok yang kupegang lepas dan melompat keluar Laboratorium, aku dan Kak Faris pun keluar untuk mengejar kodok dilema karena ingin dibelah badannya itu. Ku kira Kak Faris akan memarahiku dan menceramahiku dan juga kapok menjadi partnerku. Dia malah tertawa dan.

“Ayo kejar,“ ucapnya sambil lari mengejar kodok itu. Aku berlari mengikutinya dan aku berlari lebih kencang hingga mendahului Kak Faris. Tiba-tiba Kak Faris memegang tanganku dengan nafasnya yang tidak beratur.

“Mending lo lari dibelakang gue. gue ngejar kodoknya, lo ngejar cinta gue,“ ucapnya sambil tersenyum. Untuk kedua kalinya aku meleleh, melebihi lelehan coklat belgia dan larva di gunung sahara. By the way sahara kan sungai bukan gunung. Eh gurun kali bukan sungai, Untuk kali ini maklumi sajalah kalau aku salah, namanya juga orang jatuh cinta.

             Bisa dibilang Kak Faris adalah partner senior yang sabar dalam menghadapi kecerobohanku, dari partner selama praktek di ekstrakurikuler kimia, aku jadi semakin dekat dengan Kak Faris, bahkan terkadang kita berdua pulang sekolah bersama. Dialah yang bisa mengendalikan kecerobohanku. Saat aku lulus sma-pun aku mengambil fakultas dan jurusan yang sama dengan Kak Faris.



Komentar