Cold couple

Nestapa

NestAPA

BY: OSIETARI


            Banu segga nama lengkapnya, dia salah satu murid sekolah menengah pertama yang aktif di organisasi sekolah. Humoris, mudah bergaul, bejiwa kemanusiaan begitulah sifatnya. Banyak orang yang menyukai keramahannya, keramahannya itulah yang membuat Banu mempunyai banyak teman. Kana adalah salah satu teman akrab Banu sejak sekolah menegah pertama.

            Cantik, manis, popular, begitulah Kana. Sesosok perempuan yang banyak disukai semua orang karena kecantikannya, dia salah satu aktivis di organisasi sekolah. Banyak teman-teman bahkan para senior yang menyukainya, tidak terkecuali Banu, sejak lama dia mengagumi sosok perempuan itu. Dan sejak lama pula dia tidak mempunyai nyali untuk menyatakan perasaannya kepada Kana.

            Saat mengetahui Kana satu sekolah bahkan satu kelas dan satu organisasi dengannya, Banu mempunyai sedikit nyali untuk menyatakan perasaannya pada Kana, Banu ingin Kana mengetahui bagaimana perasaannya. Saat pulang sekolah Banu berencana untuk mengungkapkan perasaannya. Saat Banu ingin menghampiri Kana, seorang laki-laki sudah menghampiri Kana lebih dulu, laki-laki itu menggandeng tangan Kana dan membawa Kana pergi keluar kelas. Banu tidak tahu siapa laki-laki itu, yang Banu tahu laki-laki itu adalah senior. Banu berniat untuk mengungkapkan perasaannya besok di waktu yang tepat.

            Kalah cepat, Banu kalah cepat dengan senior itu. Saat Banu memasuki kelas, teman-teman satu kelasnya mengucapkan selamat untuk Kana, Banu tidak tahu apa maksud ucapan selamat teman-teman satu kelasnya terutama teman-teman perempuan satu kelasnya pada Kana. Banu yakin kalau hari ini bukanlah hari ulang tahun Kana. Lalu mengapa mereka semua mengucapkan selamat untuk Kana, adakah hal special yang terjadi pada Kana dan hati Banu sedikit mendung saat mengetahui Kana telah berpacaran dengan senior yang kemarin datang kekelasnya itu, Adit adalah nama senior itu, senior yang lebih dulu mengambil hati Kana dibanding Banu, senior yang kini menjadi pacar Kana. Rencananya pagi ini Banu akan mengungkapkan perasaannya pada Kana, dan sepertinya dia harus mengurung niatnya, karena tidak mungkin dia mengungkapkan perasannya pada kekasih orang dan memacari pacar olang lain.

“Banu, buru-buru banget pulang,” ucap Kana. Kana menghalangi jalan Banu. Kana memegangi tas Banu dan mengatakan pada Banu untuk tidak segera pulang karena Kana akan mentraktir Banu. Kini Kana dan Banu berada di waroeng cape anak cekolah  yang berada tepat di depan sekolah. tempat makan dengan harga makanan yang sesuai dengan pelajar SMA dan tempat yang sangat nyaman dan cocok untuk anak gaul SMA.

“Lo ngapain traktir gue, maksa lagi,” tanya Banu.

“Ini PJ(pajak jadian), temen-temen sekelas udah gue traktir, yang belom cuman lo. Berhubung lo temen deket gue dari dulu, bahkan dulu, dulu, dulu banget,  jadi traktiran buat lo special,” ucap Banu. Dalam hati, Kana terlihat senang bisa berpacaran dengan Kak Adit, andai Banu berada di posisi Kak Adit, pasti dia sangat senang. Itu hanya berandai, nyatanya Kana saja tidak tahu bagaimana perasaan Banu yang sebenarnya kepadanya.

            Saat bell sekolah berbunyi Banu langsung pulang ke rumah, dan saat dirinya baru sampai tiba-tiba saja handphonenya berbunyi, Banu langsung menaiki motornya dan kembali ke sekolah, Banu mengendarai motor itu dengan kecepatan penuh. Handphone Banu berbunyi karena adanya panggilan dari Kana, Kana menelephonenya sambil menangis, Banu khawatir terjadi sesuatu hal buruk pada Kana. Di jalan Banu hampir menabrak karena memikirkan keadaan Kana. Banu mencari keberadaan Kana, dan melihat Kana sedang menangis di dalam kelas yang sepi. Banu menghampiri dan menenangkan Kana, dengan suara yang serak karena menangis Kana memberitahu Banu penyebab yang membuatnya menangis. Rencananya Kana ingin mengajak Kak Adit pulang bersama dan sesampai di kelas Kak Adit, Kana melihat Kak Adit berduaan dan bermesraan dengan teman satu kelasnya. Kana sadar bahwa Kak Adit telah berselingkuh dibelakangnya, Kana merasa bahwa dirinya telah dipermainkan Kak Adit, Kana tidak tahu kepada siapa dia harus bercerita, yang Kana tahu hanyalah Banu. Kana fikir Banulah orang yang tepat untuknya berbagi cerita tentang kesedihan yang dialaminya.

            Setelah Kana terlihat tenang, Banu mengantarnya pulang kerumah. Banu berfikir apakah ini moment yang pas untuknya menyatakan perasaan, sepertinya tidak. Perasaan Kana baru saja dikhianati, hatinya masih terluka, tentu saja Kana belum siap menerima perasaan cinta orang lain untuk singgah dihatinya dan sepertinya Banu harus menunggu moment yang pas untuk menyatakan perasaannya pada Kana.

            Olahraga adalah pelajaran kesukaan Banu, dari sekolah dasar Banu sangat menyukai dunia olahraga, dan hari ini guru olahraga tidak bisa mengajar karena sedang mengikuti rapat, para siswa diminta untuk melakukan pemanasan, setelah itu bebas melakukan olahraga apapun. Banu memilih untuk bermain bola bersama teman laki-laki satu kelasnya. Banu menendang bola itu tepat memasuki gawang, dan Banu melihat Kana yang duduk menyendiri di balik gawang itu. Banu menghampiri Kana, Kana sibuk memainkan rumput-rumut  yang berada didepannya.

“Gue nggak tau kenapa setiap ngeliat Kak Adit, gue selalu malu dan pingin menghindar,” ucap Kana.

“Lo nggak perlu menghindar, apa lagi mau kalo ketemu Kak Adit, seharusnya Kak Adit yang malu dan menghindar setiap ngeliat lo, karena dia udah selingkuh dan buat lo kecewa,” ucap Banu.

“Cowok model kaya Kak Adit jangan diharapin apalagi dipertahanin, mendingan dijual ke tukang rongsok, kalo enggak dibuang ke panti jompo” ucap Banu. Kana tertawa mendengar ucapan Banu, setidaknya Banulah yang bisa membuat Kana sedikit melupakan masalahnya dan melihat Kana tertawa membuat hati Banu bahagia dan tidak lagi khawatir melihat Kana terus bersedih.

            Betapa senang hati Banu dan teman-teman satu sekolahnya saat mendengar pengumuman bahwa hari ini sekolah dibubarkan, Banu yang sebelumnya berada di kantin langsung kembali ke kelas untuk mengambil tas dan beberapa peralatan tulisnya diatas meja, Banu tidak langsung pulang. Banu rasa ini adalah moment yang pas untuknya menyatakan perasaannya pada Kana. Banu menunggu Kana di parkiran sekolah, dan yang ditunggu akhirnya datang juga.

“Gue mau ngomong,” ucap Banu dan Kana secara bersamaan.

“Lo duluan,” ucap Banu dan Kana kembali secara bersamaan. Banu dan Kana tertawa melihat diri mereka sendiri yang tiba-tiba aneh, Kana mempersilahkan Banu untuk mengatakan hal yang ingin dikatakannya lebih dulu, Banu mempersilahkan Kana lebih dulu mengatakan hal yang ingin dikatakannya.

            Kana mengatakan bahwa dia sadar selama ini ada sosok yang menyukainya, Banu tersenyum dan akhirnya Kana menyadari perasaannya selama ini, namun senyum itu redup saat Kana mengatakan sosok itu adalah Yuda teman satu kelasnya dan juga Banu, Kana juga mengatakan bahwa tadi setelah mendengar pengumuman Yuda menemuinya dan mengatakan bahwa Yuda menyukainya dan sekarang Kana telah berpacaran dengan Yuda. Banu tersenyum menutupi rasa sedih dihatinya, rupanya dia kalah cepat lagi.

“Gue ikut seneng lo pacaran sama Yuda,” bohong Banu. Apa yang dikatakannya sangat berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh hatinya.

            Hampir setiap hari Banu melihat Kana selalu bersama Yuda, Banu merasakan hatinya kembali patah melihat orang yang disukainya bersama orang lain. Kebersamaan Kana dengan Yuda tidak berjalan lama, sekitar satu bulan berpacaran mereka berdua putus. Banu merasa bahwa ia memiliki kesempatan untuk menyatakan cintanya pada Kana. Hampir setiap hari Banu menghabiskan waktu bersama Kana, Kana sering bermain ke rumah Banu, begitupun sebaliknya dan Banu rasa ini adalah moment yang tepat untuknya menyatakan perasaan pada Kana. Banu memantapkan hatinya untuk mengatakan sesjujurnya kepada Kana tentang apa yang dirasakannya selama ini, perasaan yang selama ini menghantuinya dan meminta untuk segera diungkapkan, dengan yakin Banu mengatakan pada Kana bahwa ia menyukai Kana sedari dulu dan Banu harap Kana juga merasakan hal yang sama.

“Nggak seharusnya lo nembak gue, lo salah kalo lo suka sama gue dan minta gue jadi pacar lo, lo nggak bisa jadi pacar gue,” ucap Kana.

“Hampir setiap hari kita selalu bareng, apa nggak ada sedikitpun rasa suka lo ke gue,” tanya Banu.

“Dari dulu gue tau lo suka sama gue, tapi gue sama sekali nggak suka sama lo, gue nggak mau lo jadi pacar gue, gue maunya lo jadi sahabat gue, gue maunya kita sahabatan bukan pacaran,” ucap Kana. 
            Cinta Banu telah ditolak oleh Kana, sedikit remuk saat Kana menolaknya dan memintanya menjadi sahabatnya bukan kekasihnya, Banu tidak tahu apakah perasaan sukanya pada Kana bisa dia hilangkan begitu saja saat jelas-jelas mendengar Kana tidak menyukainya.

          Kejadian penolakan cinta itu tidak membuat hubungan Banu dan Kana renggang, mereka berdua masih seperti biasa, sering berkomunikasi dan selalu bersama. Lebih seringnya Kana menghubungi Banu lebih dulu. Setelah menolak Banu, Kana sama sekali tidak canggung ataupun menghindar Kana justru terlihat semakin dekat dengan Banu, Kana bahkan selalu meminta Banu menemaninya kemanapun. Seperti malam ini, Banu yang sedang tertidur pulas terbangun oleh kedatangan Kana. Kana meminta Banu menemaninya jalan-jalan ke alun-alun kota menikmati malam minggu. Kana terus memaksa Banu untuk memenuhi permintaanya.

            Dan  disinilah Banu sekarang, berada di alun-alun kota menemani Kana. Banu melihat ke sekitar alun-alun kota, saat malam minggu alun-alun kota sangat ramai, lebih tepatnya ramai oleh para pemuda pemudi yang berpacaran. Banu memperhatikan Kana begitu menikmati suasana malam ini, bahkan dia terlihat senang. Banu bertanya pada dirinya sendiri, apa aku akan terus seperti ini?. setiap hari bersama Kana membuat Banu sulit melupakan perasaan sukanya pada Kana dan terus membuat hatinya tersiksa. Kana bahkan tidak tahu perasaan yang sedang melandanya. Setelah puas menikmati alun-alun kota, Kana mengatakan pada Banu bahwa dia ingin pulang, hari juga semakin malam dan Banupun mengantarkan Kana pulang.

“Thanks ya Ban, next time kita pergi bareng lagi,” ucap Kana.

“Cukup disekolah aja kita bareng, gue nggak mau kita keseringan bareng,” ucap Banu.

“Lo kenapa Ban? Kok egois gitu sih,” ucap Kana.

“Kalo gue egois lo apa Kan?. lo minta gue ngelupain perasaan suka gue ke lo, tapi hampir setiap hari lo minta gue nemenin lo, semakin sering gue bareng sama lo, semakin susah gue ngelupain perasaan suka gue ke lo, dan hati gue tersiksa Kan” ucap Banu.

            Banu mengerti bahwa memikirkan perasaan orang yang kita sukai dan membuat perasaan orang yang kita sukai itu senang, itu hal yang bagus. Tapi kita juga harus memikirkan perasaan kita sendiri, jangan sampai kita membuat hati orang yang kita sukai bahagia tapi kita justru membuat hati kita sendiri terluka.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             



Komentar